Senin, 21 November 2011

Sebuah Catatan tentang "Materialisme"

Peta Pemikiran Tentang Realitas Sosial Oleh Teori Karl Marx


Marx dilahirkan dan merupakan keturunan Jerman dengan kondisi kehidupan yang termasuk kelas borjuis mewah dari kebangsaan Yahudi pada masa itu, ayah Marx adalah seorang penganut politik monarki yahudi, tetapi di masa mudanya Marx tidak menganut politik monarki ayahnya. Pada usia 18 tahun dari Universitas Bonn, Marx pindah ke Universitas di Berlin, karena sebagai akibat dari hubungannya dengan para Hegelian Muda pada saat itu, beberapa unsur teori sosialnya mulai dibentuk. Para penganut Hegelian Muda ini mempunyai pendirian kritis dan tidak mengahargai ide – ide Hegel serta penganutnya atau Hegelian Tua, khususnya yang berhubungan dengan pandangan mereka mengenai masa lampau yang bertentangan dengan masa depan. Perjuangan yang terus menerus antara ide – ide ayng ada dengan bentuk – bentuk sosial serta semua yang akan ada, merupakan unsur dasar dalam model Hegel mengenai sosio – budaya. Dalam arah perjuangan ini, individu dan masyarakat secara bertahap mengatasi dirinya dan mencapai tingkat kesadaran diri yang lebih tinggi. Marx dalam ekonomi politiknya juga dipengaruhi oleh tulisan dari sastrawan Inggris seperti Adam Smith (yang dikelan sebagai Bapak Kapitalisme no. 1) dan David Richardo. Marx juga berkesempatan bertemu dengan Fredrick Engels pada saat menetap di Paris.


Marx mewarisi dan menggali ajaran revolusi dan sosialisme dari Perancis, ekonomi politik dari Inggris, maka yang tidak boleh diabaikan adalah akar dari ide – ide filsafatnya yang ditimba langsung dari tradisi kefilsafatan Jerman (The Germany Ideology). Beberapa pemikiran Karl Marx dipengaruhi dan merupakan sumbangan dari tokoh Georg Wilhelm Frederick Hegel (1770-1831) dan Ludwig Andreas Feuerbach (1804-1872) untuk filosofinya.



1) G.W.F. Hegel (1770-1831)


Hegel sangat mengutamakan rasio, namun rasio yang dimaksudkan bukanlah semata – mata terdapat pada individu, akan tetapi terutama rasio yang terletak pada subjek absolut. Inti dari idealisme Hegel mengambil posisi di kala ia mensetarakan keseluruhan realitas dengan suatu subjek. Rumusan ini terkenal dengan dalil


” all that is real is relational, and all that is rational is real (seluruh yang real bersifat rasional dan seluruh yang rasional bersifat real)”. Jadi maksud dari dalil ini adalah bahwa luasnya rasio sama dengan luasnya realitas. Segenap realitas adalah proses idea (pemikiran) yang memikirkan dirinya sendiri (das Ding an Sich). Jadi rasional disini bukan empiris, sebab hal yang bersifat empiris tidak tepat dikatakan rasional. Hal empiris hanya bagian dari aksidental dari keseluruhan (The Whole), sedangkan keseluruhan adalah sesuatu yang bersifat mutlak, bahwa yang mutlak adalah spiritual yang lambat laun menjadi sadar akan dirinya.



Hegel dengan kata lain merumuskan bahwa realitas itu mengambil bentuk dalam ”Roh Absolut” atau ide. Pada garis besarnya sesuai dengan perkembangan Roh atau ide, maka sistem filsafat Hegel dapat dibedakan menjadi tiga pokok utama, meliputi :


a) Pertama, tahap ketika Roh berada dalam keadaan ”ada dalam dirinya sendiri”, filsafat yang membicarakan Roh dalam posisi semacam ini disebut dengan logika. Logika yang Hegel maksudkan bukan menurut pengertian tradisional sebagai bentuk dan hukum berfikir seperti dirumuskan Aristoteles (384-322M), tapi logika yang memandang Roh di dalam dirinya yang bebas dalam batasan ruang dan waktu.


b) Kedua, tahap ketika Roh berada dalam keadaan ”berbeda dengan dirinya sendiri”. Roh disini sudah diluar dirinya atau terasing dari dirinya atau berbeda dengan lainnya. Hegel menyebut tahap ini sebagai pembahasan filsafat alam.


c) Ketiga, tahap dimana Roh kembali pada dirinya sendiri, ringkasnya Roh berada dalam keadaan “dalam dirinya dan bagi dirinya sendiri”, tahap ini dalam pembicaran filasafat disebut dengan filsafat Roh dengan berbagai variasi yang menyertainya.


Dialektika Hegel adalah konsepsi utama pada ide yang merupakan segalanya, Hegel melihat ”Realitas” terbentuk dari ide atau gagasan. Realitas sama dengan ide atau gagasan atau “Roh Absolut”.Berdasarkan tesis, antitesis, dan síntesis maka terbentuk apa yang dinamakan Hegel sebagai ”Roh Akal Budi (Spirit of Reason)”, yang merupakan ”Roh Absolut” atau ide/ gagasan yang bersifat abstrak.Dialektika mempelajari tentang kontradiksi, pertentangan, dan kesenjangan yang muncul dalam masyarakat. Dialektika muncul melalui kontradiksi, pertentangan, dan kesenjangan oleh masyarakat, khususnya kelas kapitalis (dialektika kelas sosial), pertentangan antara kelas borjuis dan kelas proletrar.




2) L.A. Feuerbach (1804-1872)


Semula Feuerbach tertarik dengan kemutlakan identitas yang terkandung dalam rangkaian dialektis tesis-antitesis-sintesis dari Hegel, namun akhirnya Feuerbach balik menyerang Hegel. Feuerbach memandang filsafat Hegel sebagai puncak rasionalisme modern, tetapi dalam suasana semacam ini dominasi agama tetap mewarnai kehidupan sehingga dunia materi khususnya ”manusia” tidak ditempatkan pada martabat yang semestinya.

Metode Hegel diakui oleh Feuerbach mengandung unsur pembebasan manusia dari belenggu yang mengikatnya melalui proses penyadaran Roh yang berkelanjutan (continue). Walaupun pembebasan ini menurut Feuerbach tidak mencukupi karena pada Hegel pikiran adalah tesis sedang penampakan kenyataan (antitesis) tempatnya juga dalam pikiran. Padahal Feuerbach yakin bahwa hanya materi saja yang nyata, akan halnya pikiran meskipun dalam bentuk yang paling murni hanyalah merupakan alienasi dari kenyataan materil (alam).

Inti dari pemikiran Feuerbach, Feuerbach melihat ”Realitas” adalah diibaratkan benda nyata yang senyata – nyatanya dan materi merupakan benda nyata. Hal ini tertuang dalam pernyataan pendirian Feuerbach terhadap kecenderungan materialisme vulgar bahwa


”Matter is not product of mind, but mind it self si merely the highest product of matter"

Feuerbach menggariskan filsafatnya dengan corak materialistis, meskipun nama yang lebih disukainya adalah filsafat - filsafat organisme. Kecenderungan ini timbul karena Feuerbach tidak setuju dengan paham materialisme kasar yang dikembangkan oleh materialisme mekanis sebelumnya – menurut Marx materialism Feuerbach tetap vulgar menggambarkan manusia sehakikat mesin. Kemudian Feuerbach secara tajam merumuskan satu dalil yang pada akhirnya menjelma dalam semangat antropologisnya, yaitu “Der Mensch ist was man isst” :


(Man is what he eats) …all the product of the human mind were the reflection of material condition (Manusia ialah apa yang ia (manusia) makan…seluruh hasil pemikiran manusia adalah refleksi dari kondisi materialnya).


Berdasarkan dari pernyataan penting dari Feuerbach dan Hegel, Marx mulai berfikir kritis mengenai masalah realitas sosial, ide, agama, dan materialisme bagi manusia. Asumsi Marx menekankan pada realitas sosial (bahwa individu dipengaruhi oleh materi atau dimana materi mampu menguasai struktur sosial (struktur disini adalah kehidupan sosial) oleh individu yang ada di masyarakat). Marx menekankan asumsinya pada kondisi sosial ekonomi masyarakat dan masyarakat tanpa kelas, sebagaimana tekanan Marx pada materi yang kemudian dari materi memunculkan pertentangan dalam masyarakat dan selalu pertentangan tersebut karena faktor materi atau pertentangan muncul karena perbedaan kepemilikan materi. Materi berusaha mempengaruhi individu melalui ide terhadap struktur materi, sehingga menunculkan ide bagi Marx untuk mengkritik masyarakat itu sendiri.

Marx dalam memahami realitas sosial adalah pemahaman yang dipahami atau yang memahami tentang hubungan gejala sosial dan penguasaan materi. Posisi individu disini, individu berusaha dipengaruhi oleh kepemilikannya terhadap materi (determinan). Marx dalam satu dasar utama teorinya, bahwa :


”Melihat pentingnya kondisi materi itu, terhadapnya individu harus menyesuaikan diri atas dasar kedudukan ekonomi dalam suatu realitas sosial”.


Kunci utama bagi Marx untuk memahami kenyataan sosial bahwa realitas sosial itu tidak ditemukan dalam ide – ide abstrak, tetapi dalam urusan bekerja, dimana pekerjaan akan menghindarkan manusia dari mati kelaparan dan untuk memperoleh materi. Marx kemudian mengembangkan posisi teoritis dan filosofinya melalui bentuk analisa dialektik (yang meliputi kepekaan terhadap kontrasiksi internal dan perjuangan antara ide lama dengan ide baru serta bentuk sosial), tetapi menolak idealisme filosofis dan menggantikannya dengan pendekatan materialistik.



3) Peta Pemikiran Karl Marx Mengenai Dialektika Materialisme dan Materialisme Historis

Materialisme historis menurut Marx, bahwa perkembangan hidup manusia di pengaruhi oleh materi atau kepemilikan materi. Dialektika pertentangan atau kontradiksi atau kesenjangan yang dimunculkan oleh kelas kapitalis, sehingga dialektika kelas sosial ada sebagai akibat dari adanya kesenjangan kelas borjuis dan kelas ploretar. Dialektika materi adalah kondisi yang didasarkan pada sebuah ide/gagasan/asumsi/pendapat dari Marx terhadap kondisi penting mengenai materi. 



1) Materialisme Dialektis (Dialectics Materialisme)

Materialisme dalam konteks pembahasan filsafat sering dilawankan dengan idealisme, sebab kedua aliran (school) ini memiliki kawasan yang bertitik pisah dan masing – masing mempunyai ciri serta penganut dalam sejarah kemanusiaan. Filsafat materialisme didapatkan adanya anggapan bahwa kenyataan berada diluar persepsi manusia, demikian juga diakui adanya kenyataan objektif sebagai penentu trakhir dari ide, sebaliknya filsafat idealismemenegaskan bahwa segenap kesadaran didasarkan pada ide – ide dan mengingkari adanya realitas di belakang ide – ide manusia.

Materialisme juga lazim disebut aliran serba zat merupakan bagian dari filsafat metafisika dan terutama ontologi. Materialisme mengarah kepada anggapan bahwa kenyataan yang sesungguhnya adalah benda atau materi, dan kenyataan ini diacukan untuk menjawab sejumlah soal yang berhubungan dengan sifat dan wujud dari keberadaan. Persoalan Roh atau jiwa dalam aliran ini dianggap bukan sebagai substansi yang berdiri sendiri, tetapi dirumuskan sebagai akibat dari proses materi. Telaah yang bersifat universum, filsafat materialisme menyatakan bahwa dunia ini tiada lain terdiri dan tergantung kepada benda materi.

Materialisme dalam sorotan ilmu pengetahuan atau disebut juga ”Materialisme Ilmu” mengausai jagad pemikiran sekaligus menjdai mode pemecahan soal sepanjang abad sembilan belas dan awal abad dua puluh, sebab secara lahiriah memberikan sumbangan bagi kemajuan umat manusia. Hal ini ditopang oleh penemuan – penemuan ilmiah terutama dalam ilmu kimia, ilmu fisika, ilmu fisiologi, biologi, serta kebangkitan teknologi terapan yang pada ujungnya melahirkan revolusi industri. Penemuan ilmu – ilmu ini membenarkan kesimpulan tentang sumbangan materialisme ilmu di maksud.

Materialisme melatarbelakangi pandangan masyarakat dalam merangkaikan dan mempersatukan masyarakat dengan perilaku yang bersifat dinamis. Masyarakat dipandang sebagai proses dan materi dipandang sebagai cara dalam melahirkan tindakan sosial ”social action” atau manusia sendiri mengusahakan kehidupan bersama menurut konsepsi dan dengan tanggungjawab terhadap hasilnya.

Materialisme dialektis bertitik tolak dari materi sebagai satu – satunya kenyataan. Karl Marx mengartikan Dialektika Materialisme sebagai keseluruhan proses perubahan yang terjadi terus menerus tanpa ada yang mengantarai. Proses itu kemudian timbul kesadaran melalui proses pertentangan. Materi yang dimaksud menjadi sumber keberadaan benda – benda alamiah, senantiasa bergerak dan berubah tanpa henti – hentinya. Pergerakan dan perubahan itu terjadi perkembangan kepada tingkatan yang lebih tinggi, tidak melalui proses yang lamban (Evolutif) melainkan secara dialektis yaitu melalui pertentangan – pertentangan yang pada hakikatnya sudah mengandung benih perkembangan itu sendiri.

Demikian pandangan materialisme dialektis memperlihatkan nuansa lain dari pandangan materialisme sebelumnya. Materialisme ini diacu sebuah teori bahwa akan timbul benda – benda lapisan tinggi dari lapisan rendah, yaitu benda hidup dari benda tidak hidup, manusia yang berkesadaran dari binatang tanpa menunjuk kepada adanya kekuatan cipta kreatif dari luar. Proses aksi serta reaksi di dalam alam dapat diterangkan sebagai manifestasi dari gerakan materi yang berdialektis, dengan kata lain, dialektika materialisme tidak lain adalah sejarah perkembangan alam berdasarkan benih yang hadir dari kekuatan yang ada pada dirinya.

Dua gagasan pokok yang diambil oleh Karl Marx dari Hegel, yaitu terjadinya pertentangan antara segi – segi yang berlawanan dan gagasan bahwa segala sesuatu berkembang terus. Dua basis ini dipergunakan kemudian untuk perspektif lain, sebab bila dari teori asal hukum dialektika terbatas berlakukanya pada dunia abstrak yang penerjemahannya mengambil wadah dalam pikiran manusia. Marx justru membalik, bahwa dialektika itu berlakunya di dalam dunia yang nyata (real), materi atau benda konkrit, dengan kata lain, segala sesuatu bersifat rohani merupakan hasil dari materi dan tidak sebaliknya.

Inti dari keseluruhan pendapat antara Marx, Hegel, Feuerbach, dan Engels yang memiliki pernyataan masing – masing, meski terdapat perbedaan namun juga terdapat persamaan perspektif mengenai materi. Materialisme dialektis dipicu berdasarkan pertentangan, kontradiksi, dan kesenjangan terhadap kepemilikan materi dalam suatu masyarakat sosial. Realitas sosial menyatakan bahwa tindakan masyarakat terhadap materi merupakan kesadaran, dimana materi merupakan sesuatu yang penting atau benda yang bernilai tinggi diantara benda – benda lainnya.


2) Sejarah Materi (Materialisme Historis)

Materialisme Historis diungkapkan bahwa manusia hanya dapat dipahami selama ia (manusia) ditempatkan dalam konteks sejarah. Manusia pada hakikatnya adalah insan bersejarah, selanjutnya jika diandaikan bahwa sejarah terpatri dalam peristiwa – peristiwa masyarakat, maka seyogyanya pada saat sama sejarah juga diletakan dalam keterkaitannya dengan masyarakat. Manusia sebagai pemangku sejarah tidak lain hanyalah keseluruhan relasi – relasi masyarakat. Materialisme Historis Marx bertumpu pada dalil bahwa produksi dan distribusi barang serta jasa merupakan dasar untuk membantu manusia mengembangkan eksistensinya. Penafsiran sejarah dari aspek ekonomi ini menempatkan pertukaran barang dan jasa sebagai syarat untuk menata segenap lembaga sosial yang ada.

Materialisme historis adalah tafsiran sejarah dari sejarah pendekatan ekonomi. Pendekatan ini berusaha menjelaskan berbagai tingkat perkembangan ekonomi masyarakat yang terjadi sepanjang zaman. Materialisme historis ini menekankan pentingnya kaitan antara kekuatan produksi dan hubungan produksi. Dari dua kekuatan ini lahir sejumlah teori turunan ajang manusia bergulat dengan sejarahnya, namun kebenarannya ini terbantah oleh kejadian – kejadian sejarah yang tidak disebabkan oleh semata – mata faktor ekonomi. Validitas teori Marx tentang sumber penggerak sejarah kehidupan tidak sepenuhnya dapat dijadikan sebagai pengangan ilmiah.

Filsafat materialisme Marx memperlihatkan adanya keterhubungan dengan materialisme lama. Sumbangan yang diberikan Marx adalah bahwa materialismenya mengarah kepada keterlibatan manusia sebagai subyek kesadaran. Marx mengatasi materialisme dualistis yang dianggapnya vulgar serta materialisme mekanistis abad delapan belas, namun Marx menjadi berat sebelah ketika mereduksikan seluruh ketergantungan manusia pada alam materi.

Marx dan asumsinya dilandaskan terhadap kebutuhan materi dan perjuangan kelas sebagai akibat dari usaha – usaha untuk memenuhi kebutuhan – kebutuhan hidup. Kondisi kebutuhan materi juga bergantung pada sumber alam yang ada dan kegiatan manusia yang produktif, sehingga manusia mampu menghasilkan kebeutuhan materi dengan kemampuannya. Adaptasi manusia terhadap lingkungan materinya selalui melalui hubungan – hubungan ekonomi tertentu, dan hubungan ini sedemikian meresapnya, sehingga semua hubungan – hubungan sosial lainnya dan juga bentuk – bentuk dasar kesadaran dibentuk oleh hubungan ekonomi itu sendiri.

Fungsi ideologi yang mengganti dan menyesatkan itu sangat jelas dalam analisa Marx mengenai agama. Marx mengemukakan bahwa tekanan agama tradisional pada dunia transeden, non materil dan harapan akan hidup sesudah mati membantu mengalihkan perhatian manusia dari penderitaan fisik dan kesulitan materi dalam hidup didunia. Kekayaan status duniawi dan kekuasaan melihat dalam kesadaran agama sebagai ilusi, fana, dan sangat berbahaya untuk kesejahteraan rohani individu serta pahalanya bagi kehidupan kelak, maka kemiskinan rohani diubah menjadi kebijakan dan kekayaan diubah menjadi kemiskinan rohani. Hal ini merupakan sindiran atau kritik Marx yang tajam mengenai agama yang merupakan ”Candu” bagi manusia, namun keberadaan agama mungkin tidak akan diterima oleh semua kelas dengan bentuk kenikmatan – kenikmatan, tetapi kelas – kelas masyarakat lapisan bawah yang dengan sungguh – sungguh menerimanya tanpa adanya pemberontakan atau perlawanan. Marx juga menyebutkan bahwa agama tidak mempengaruhi perilaku masyarakat melainkan agama mempengaruhi sosial ekonomi masyarakat.

Inti dari keseluruhan mengenai materialisme historis bahwa manusia dalam masyarakat tidak akan pernah terlepas dari alam dan materi. Sejarah perjuangan kelas untuk memperoleh materi bagi manusia didapatkan melalui adanya produktifitas manusia berdasarkan produksi, alat – alat teknologi, dan bekerja

Prinsip dasar pandangan materialisme sejarah diatas dapat dirmuskan sebagai berikut : ”Bukan kesadaran manusia yang menentukan keadaan mereka, tetapi sebaliknya keadaan sosial merekalah yang menentukan kesadaran mereka. Menurut Karl Marx, yang menentukan perkembangan masyarakat bukan kesadaran, jadi bukan apa yang dipirkan masyarakat tentang dirinya sendiri, melainkan keadaan masyarakat yang nyata : ”Berlawanan dengan filsafat Jerman yang turun dari surga ke bumi, disini kami naik dari bumi ke surga. Artinya kami tidak bertolak dari apa yang dikatakan orang, dari bayangan dan cita – cita orang, juga tidak dari orang yang diperkatakan, dipikirkan, dibayangkan, dicita – citakan untuk sampai kepada manusia nyata : (melainkan) kami bertolak dari manusia yang nyata dan aktif, dan proses hidup nyata merekalah perkembangan refleks – refleks serta gema – gema ideologis proses hidup itu dijelaskan.



3) Paradigma Materialisme Dialektis Dalam Epistemologi Kiri Oleh Karl Marx

Materialisme dialektik Karl Marx : materialisme pada dasarnya merupakan bentuk yang paling radikal dari paham naturalisme. Sebagaimana diketahui naturalisme adalah teori yang menerima ’natura’ (alam) sebagai keseluruhan realitas. Istilah ’natura’ telah dipakai dalam filsafat dengan bermacam-macam arti, sehingga natura adalah dunia yang diungkapkan kepada kita oleh sains alam.

Menurut William R. Dennes, materialisme adalah suatu istilah sempit, tetapi radikal dan merupakan bentuk naturalisme yang lebih terbatas. Materialisme pada umumnya mengatakan bahwa di dunia ini tidak ada selain materi, atau bahwa natur (alam) dan dunia fisik adalah satu-satunya kenyataan sebagai materi. Menurut Harold istilah materialisme dapat diberi definisi beberapa cara. Pertama : materialisme adalah teori yang mengatakan bahwa atom materi sendiri dan yang bergerak merupakan unsur-unsur yang membentuk alam dan bahwa akal serta kesadaran (consciousness) termasuk didalamnya segala proses psikal merupakan metode materi tersebut dan dapat ditafsirkan seluruhnya dengan sains fisik.

Alam (universe) itu merupakan kesatuan material yang tidak terbatas alam, termasuk didalamnya segala materi dan energi (gerak/tenaga) selalu ada dan akan tetap ada, dan alam adalah realitas yang keras, dapat disentuh, material, obyektif, dan dapat diketahui oleh manusia. Materialisme modern mengatakan bahwa materi ada sebelum jiwa (mind) dan dunia meterial adalah yang pertama, sedangkan pemikiran tentang dunia ini adalah nomor dua.

Dalam arti sempit materialisme adalah teori yang mengatakan bahwa semua bentuk dapat diterangkan menurut hukum yang mengatur materi dan gerak. Materialisme berpendapat bahwa semua kejadian dan kondisi adalah akibat lazim dari kejadian-kejadian dan kondisi-kondisi sebelumnya. Benda-benda organik atau bentuk yang lebih tinggi dalam alam hanya merupakan bentuk yang lebih kompleks daripada bentuk anorganik atau bentuk yang lebih rendah. Bentuk yang lebih tinggi tidak mengandung materi/energi baru dan prinsip sains fisik adalah cukup untuk merenungkan segala yang terjadi/yang ada. Semua proses alam baik organik/anorganik telah dipastikan dan dapat diramalkan jika segala sesuatu fakta tentang kondisi sebelumnya dapat diketahui.

Materialisme sebelumnya memberikan titik tekan bahwa materi merupakan ukuran segalanya melalui paradigma materi ini segala kejadian dapat diterangkan, artinya segala kejadian sebagai kategori pokok untuk memahami kenyataan sesungguhnya dapat dijelaskan melalui kaidah hukum fisik. Keseluruhan perubahan dan kejadian dapat dijelaskan melalui prinsip sains alam semata, karena kenyataan sesungguhnya bersifat materi dan harus dijelaskan dalam ’frame’ material juga, sedangkan satu-satunya dunia yang diketahui/dapat diketahui adalah dunia yang sampai pada kita melalui indra.

Dialektis merupakan cara berfikir yang salah satu aspeknya adalah memahami kenyataan sebagai totalitas, dalam artian bahwa keseluruhan yang ada didalamnya memiliki unsur yang saling bernegasi (mengingkari dan diingkari), saling berkontradiksi (melawan dan dilawan) dan saling bermediasi (memperantarai dan diperantarai).

Asal mula dialektika ini dijumpai dalam tulisan ’Yakhot’ Yunani, yaitu ’Dialectics-from Greek ’Dialego’ – to converse, dispute. In antiduity it meant the art of arriving at the truth by discovering contradiction is the arguments of an apponent and overcoming them. Later it came to be applied to a method of apprehending reality (dialektika berasal dari Yunani “Dialego’ yang artinya pembalikan, perbantahan. Didalam pengertian lama, dialektika bermakna sebagai seni pencapaian kebenaran melalui cara pertentangan dalam perdebatannya dari satu pertentangan berikutnya. Selanjutnya dialektika dipergunakan untuk suatu metode dalam memaknai kenyataan).


Fiuh,,, akhirnya.. selesai juga.. sebenarnya tulisan ini sudah ada di Blog terdahulu.. tapi karena adanya beberapa kesalahan dalam penulisan, tulisan ini menjadi tak enak di pandang.. hehe.. Semoga sekelumit cerita tentang Marx ini dapat membantu teman teman yang membutuhkan.. :D

0 komentar:

Poskan Komentar